MANTRA DALAM SENI PERTUNJUKAN NINI THOWONG: SEBUAH STUDI SASTRA LISAN DI KABUPATEN BANTUL (Mantra in Performing Arts of Nini Thowong: An Oral Literature Study in Bantul District)

Cahyaningrum Dewojati

Abstract


Nini Thowong merupakan salah satu fenomena kesenian berupa teater tradisional yang masih berusaha bertahan hidup di Kabupaten Bantul. Jenis pertunjukan semacam Nini Thowong ini juga dikenal di beberapa daerah di Indonesia dengan sebutan yang berbeda-beda. Adapun namanama itu, antara lain Nini Thowok, Nini Edok, Nini Diwut, Jaelangkung, Jelangkung, Jalangkung, Jolangkung, dsb. Jenis teater tradisional Nini Thowong (selanjutnya disebut NT) ini sangat kaya dengan folklor lisan, di antaranya, berupa mantra dan puisi lisan yang ditembangkan. Meskipun  persebaran seni pertunjukan sejenis sangat luas, namun, penelitian ini akan difokuskan pada penelitian mantra yang terdapat pada seni pertunjukan NT yang berkembang di kecamatan Pundong, Bantul. Pada dasarnya, penelitian ini mempunyai dua tujuan utama, yakni teoretis dan praktis. Secara teoretis, penelitian ini mempunyai beberapa tujuan. Pertama, penelitian ini dimaksudkan untuk memahami dan mendekripsikan konvensi struktural kelisanan yang berupa unsur-unsur yang membentuk atau membangun struktur tekstual mantra dalam seni pertunjukan Nini Thowong di Kabupaten Bantul. Kedua, tujuan penelitian ini diharapkan mampu memahami dan mendeskripsikan aspek kelisanan mantra dalam NT, yakni formula, komposisi, perfomance, dan transmisi. Kajian ini juga dimaksudkan untuk memahami bentuk transformasi mantra tersebut. Selanjutnya, secara praktis kajian ini bertujuan untuk memahami praktik pawang dalam (dalang) dalam prosesi ritual pertunjukkan NT, dan fungsi mantra tersebut dalam konteks budaya Jawa baik secara individual maupun sosial. Penelitian ini menggunakan beberapa konsep yang meliputi konsep strukturalisme, teori formula, konsep komposisi, konsep performance, konsep transmisi, konsep transformasi, dan konsep fungsi. Konsep strukturalisme digunakan untuk menjelaskan susunan keseluruhan unsur yang membentuk kesatuan struktur mantra. Teori formula digunakan untuk menjelaskan formula atau sistim formulaik lisan dalam mantra. Konsep komposisi, performance, dan transmisi digunakan untuk menjelaskan proses penciptaan, pembacaan atau pengucapan, dan penurunan atau penyebaran mantra. Konsep transformasi digunakan untuk menjelaskanperubahan mantra. Konsep fungsi digunakan untuk menjelaskan fungsi mantra dalam konteks masyarakat pemiliknya.


Nini Thowong is an artistic phenomenon that constitutes traditional plays that have been striving its survival in Bantul Regency. Such play was well known in several regions in Indonesia with distinct labels: Nini Thowok, Nini Edhok, Nini Dhiwut, Jaelangkung, Jalangkung, and Jolangkung. Despite its varied labels, principally the media used to make the man-like puppet (traditional puppet), the main device of such art display, is relatively the same. Such Nini Thowong (later called NT) play is rich in oral folklore; one among others is the sung oral poem and mantra. However this kind of art is widespread, this research will focus on examining mantras that exist in NT living in Pundong sub-regency, Bantul. Basically, this research possesses two main objectives: theoretical and practical. Theoretically, this has several aims. First is to grasp and describe the convention of oral structure that encompasses components establish or develop a textual structure of mantra in such art performance. Second is to grasp and describe oral aspects of mantra in NT, i.e. formula, composition, performance, and transmission. It also leads to comprehension of the ways such mantra transforms. Then, practically this research aim at figuring out the practices of pawang (one endowed with special magic power that handles the puppet) as the master of puppet (dalang) during the ritual procession in this play and the functions of such mantra in the context of Javanese culture, both individually and socially. This research uses several concepts which include the concepts of structuralism, formula theory, composition concepts, performance concepts, transmission concepts, transformation concepts, and function concepts. The concept of structuralism is used to explain the overall arrangement of elements that form a unified mantra structure. Formula theory is used to explain the formula or system of oral formula in the mantra. The concepts of composition, performance, and transmission are used to explain the process of creation, reading or pronunciation, and the decline or spread of mantras. The concept of transformation is used to explain mantra changes. The concept of function is used to explain the function of mantras in the context of the community of the owner.

Keywords


mantra; Nini Thowong; sastra lisan; oral literature



DOI: https://doi.org/10.26499/wdsra.v1i2.57

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


height=  

WIDYASASTRA INDEXED BY: