NGUDARASA SEBAGAI KRITIK EDUKATIF GAYA JAWA (Kritik Centhini dalam Novel Centhini: 40 Malam Mengintip Sang Pengantin Karya Sunardian Wirodono)

Pardi Pardi

Abstract


Novel Centhini: 40 Malam Mengintip Sang Pengantin karya Sunardian Wirodono (2012) merupakan transformasi dari kisah dalam Serat Centhini karya sastra Jawa naratif dengan media tembang macapat karya Pakubuwana V (1814). Penelitian ini berangkat dari latar pemikiran belum terdapat kajian terhadap kritik Centhini dalam novel  Centhini: 40 Malam Mengintip Sang Pengantin. Tujuan dari penelitianini adalah mengungkapkan kritik yang dilontarkan oleh Centhini dalam novel Centhini: 40 Malam Mengintip Sang Pengantin(dalam bandingan dengan perilaku Centhini dalam Serat Centhini). Data penelitian berupa Serat Centhini dan novel Centhini: 40 Malam Mengintip Sang Pengantin. Kajian ini memakai metode pustaka dengan teknik perbandingan atas pemikiran dan tindakan tokoh utama bernama Centhini dalam  pemikiran dan tindakan tokoh Centhini dalam  novel Centhini: 40 Malam Mengintip Sang Pengantin karya Sunardian Wirodono. Centhini melakukan kritik terhadap fenomena pemikiran dalam Serat Centhini. Kritik dalam novel ini disampaikan oleh tokoh Centhini melalui teknik ngudarasa ‘senandika’ atau monolog sehingga tidak menimbulkan konflik dengan tokoh lain dalam membangun equilibrium atau harmoni sosial sejalan dengan sikap rukun dalam masyarakat Jawa. Dalam novel Centhini, tokoh Centhini melakukan kritik atas sikap tokoh Syekh Amongraga, Niken Tambangraras, Ki Bayi Panurta, Nyi Malarsih, Ki Kulawirya, Ki Jayengraga, Ki Jayengwesthi, Ki Pangulu Basarodin, Ki Wiradhusta, dan sebagainya. Di samping itu, Centhini juga mengkritik kondisi sosial masyarakatnya. Keberanian Centhini melakukan kritik terhadap tokoh dalam novel Centhini (yang sebelumnya tidak terjadi dalam Serat Centhini) merupakan keberanian sebagai bentuk penambahan, penolakan, dan pengembangan perilaku  Centhini dalam novel karya Sunardian Wirodono dengan Serat Centhini (1814).


The Centhini novel: 40 Malam Mengintip sang Pengantin by Sunardian Wirodono (2012) is a transformation of the story contained in Serat Centhini, a narrative Javanese literary work, using tembang macapat by Pakubuwana V (1814). This research departs from the background of the idea that there has been no study of Centhini’s criticism in the Centhini novel: 40 Malam Mengintip Sang Pengantin. The purpose of this study is to reveal the criticisms made by Centhini in the novel Centhini: 40 Malam Mengintip sang Pengantin (as opposed to Centhini’s behavior in Serat Centhini). The research data are Serat Centhini and the novel Centhini: 40 Malam Mengintip sang Pengantin. This study uses the literature method with a comparison technique on the thoughts and actions of the main character named Centhini in the thoughts and actions of the character Centhini in the novel Centhini: 40 Malam Mengintip sang Pengantin by Sunardian Wirodono. Centhini critiques the phenomena of thought in Centhini Fiber. The criticism in this novel is conveyed by the Centhini character through the technique of ngudarasa ‘senandika’ or monologue so that it does not cause conflict with other characters in building social equilibrium or harmony in line with the harmonious attitude in Javanese society. In the novel Centhini, the character Centhini criticizes the attitude of the characters of Sheikh Amongraga, Niken Tambangraras, Ki Baby Panurta, Nyi Malarsih, Ki Kulawirya, Ki Jayengraga, Ki Jayengwesthi, Ki Pangulu Basarodin, Ki Wiradhusta, and so on. In addition, Centhini also criticized the social conditions of the people. Centhini’s courage to criticize the characters in Centhini’s novel (which previously did not happen in Serat Centhini) is a form of addition, rejection, and development of Centhini’s behavior in Sunardian Wirodono’s novel with Serat Centhini (1814).


Keywords


transformasi; ngudarasa; kritik; transformation; critics

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.26499/wdsra.v4i1.109

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


height=  

WIDYASASTRA INDEXED BY: